Jumat, 09 Desember 2011

Gajah di pelupuk mata tak tampak, kuman di seberang lautan sangat terlihat


Baru benar-benar membuktikan pepatah ini ketika umurku 19 tahun, padahal aku telah mendengarnya sejak umur 5 tahun. Gajah di pelupuk mata tak tampak, kuman di seberang lautan sangat terlihat, aku agak lupa bagaimana pepatah ini persisnya berbunyi. Namun yang aku pahami selama ini, makna pepatah ini lebih ke sifat manusia yang kadang tidak bisa melihat kekurangannya diri sendiri, tetapi kekurangan orang lain, sekecil apapun itu sangatlah nampak nyata baginya.

Di usia ke-19 ini aku memahami makna pepatah itu tidak sesempit apa yang diajarkan guru SD ku waktu itu. Tidak hanya menyangkut sifat dengki manusia yang suka mencela kekurangan saudaranya sendiri, tetapi juga tentang bagaimana kita melihat sesuatu atau peluang.

Dua bulan yang lalu, aku diminta mas syaugi selaku SC acara UGM Social Enterpreneurship Challenge untuk membantu kepanitiaan di bagian acara E-Camp ( Enterpreneurship Camp ). Ketika aku menerima amanah itu, sempat timbul keraguan dalam diriku. Sosial enterpreneur ini masih merupakan hal baru di Indonesia. Maka ketika akan mengadakan pelatihan pun, pematerinya pun sulit untuk dicari yang benar-benar sudah expert. Jadilah aku menentukan pengisi acara E-Camp ini sedikit asal-asalan.

H-1, pembicara masih ada yang belum fix, dan mas syaugi menyarankan untuk menghubungi seorang pengusaha sukses, yang telah menjadi Rektor serta Profesor. Mas Syaugi bilang pembicara ini bisa jadi pamungkas E Camp ini, pembicara penutup yang bisa memberikan motivasi yang paripurna untuk para peserta, karena beliau bisa mengkolaborasikan enterpreneur, religi, pemuda, dan sosial. Dan ternyata, pembicara yang satu ini sangat dekat denganku! Bisa, sangat bisa, jika jauh-jauh hari aku telah menjalin silaturahmi yang intens dengan keluarganya. Karena istri beliau kenal denganku, bahkan pernah jalan-jalan bareng. Ya, istri beliau adalah sahabat baik budheku, dan waktu itu, ketika budhe ku main ke Jogja, aku diajak jalan bareng mereka. Tante Aini pernah menyuruhku untuk main ke rumahnya sesekali, tapi tidak terlalu aku perhatikan, karena merasa sungkan.

Singkat cerita, pembicara ini hanya berkenan dan bisa menjadi juri presentasi bisnis plan para peserta. Ah, sangat disayangkan sekali, mengingat aku pun punya peluang memiliki kedekatan kultural dengan beliau jika dulu aku mau menjalin tali silaturahmi. Bodohnya tidak terlintas di benakku untuk mengundang beliau, padahal aku mengaku sendiri tidak punya banyak referensi pembicara untuk sosial enterpreneurship. Padahal dari awal budhe ku selalu cerita, kalau suami tante Aini adalah pengusaha sukses, profesor, rektor sekaligus pemilik salah satu perguruan tinggi swasta yang menjadi percontohan dunia.

Hari ini aku belajar, bahwa menjalin silaturahmi itu sangatlah penting. Silaturahmi adalah harta yang kasat mata, tapi sangat berharga. Pada tulisanku yang lainnya aku akan membahas sosok yang sangat baik dalam menjalin dan menjaga tali silaturahmi, beliau adalah almarhum Kakek Buyutku. Cerita mengenai sosok beliau yang arif, berkharisma, dan rasa persaudaraan yang tinggi masih melegenda di keluargaku. Namun yang terpenting saat ini, yang ingin aku tanamkan pada diriku baik-baik setelah hari ini, bahwa menjalin dan menjaga tali silaturahmi itu sangat penting dan berharga. :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar