Baru benar-benar
membuktikan pepatah ini ketika umurku 19 tahun, padahal aku telah mendengarnya
sejak umur 5 tahun. Gajah di pelupuk mata tak tampak, kuman di seberang lautan
sangat terlihat, aku agak lupa bagaimana pepatah ini persisnya berbunyi. Namun yang
aku pahami selama ini, makna pepatah ini lebih ke sifat manusia yang kadang
tidak bisa melihat kekurangannya diri sendiri, tetapi kekurangan orang lain,
sekecil apapun itu sangatlah nampak nyata baginya.
Di usia ke-19 ini
aku memahami makna pepatah itu tidak sesempit apa yang diajarkan guru SD ku
waktu itu. Tidak hanya menyangkut sifat dengki manusia yang suka mencela
kekurangan saudaranya sendiri, tetapi juga tentang bagaimana kita melihat
sesuatu atau peluang.
Dua bulan yang lalu,
aku diminta mas syaugi selaku SC acara UGM Social Enterpreneurship Challenge
untuk membantu kepanitiaan di bagian acara E-Camp ( Enterpreneurship Camp ).
Ketika aku menerima amanah itu, sempat timbul keraguan dalam diriku. Sosial enterpreneur
ini masih merupakan hal baru di Indonesia. Maka ketika akan mengadakan
pelatihan pun, pematerinya pun sulit untuk dicari yang benar-benar sudah
expert. Jadilah aku menentukan pengisi acara E-Camp ini sedikit asal-asalan.
H-1, pembicara masih
ada yang belum fix, dan mas syaugi menyarankan untuk menghubungi seorang
pengusaha sukses, yang telah menjadi Rektor serta Profesor. Mas Syaugi bilang
pembicara ini bisa jadi pamungkas E Camp ini, pembicara penutup yang bisa
memberikan motivasi yang paripurna untuk para peserta, karena beliau bisa
mengkolaborasikan enterpreneur, religi, pemuda, dan sosial. Dan ternyata,
pembicara yang satu ini sangat dekat denganku! Bisa, sangat bisa, jika
jauh-jauh hari aku telah menjalin silaturahmi yang intens dengan keluarganya.
Karena istri beliau kenal denganku, bahkan pernah jalan-jalan bareng. Ya, istri
beliau adalah sahabat baik budheku, dan waktu itu, ketika budhe ku main ke
Jogja, aku diajak jalan bareng mereka. Tante Aini pernah menyuruhku untuk main
ke rumahnya sesekali, tapi tidak terlalu aku perhatikan, karena merasa sungkan.
Singkat cerita,
pembicara ini hanya berkenan dan bisa menjadi juri presentasi bisnis plan para
peserta. Ah, sangat disayangkan sekali, mengingat aku pun punya peluang
memiliki kedekatan kultural dengan beliau jika dulu aku mau menjalin tali
silaturahmi. Bodohnya tidak terlintas di benakku untuk mengundang beliau,
padahal aku mengaku sendiri tidak punya banyak referensi pembicara untuk sosial
enterpreneurship. Padahal dari awal budhe ku selalu cerita, kalau suami tante
Aini adalah pengusaha sukses, profesor, rektor sekaligus pemilik salah satu
perguruan tinggi swasta yang menjadi percontohan dunia.
Hari ini aku
belajar, bahwa menjalin silaturahmi itu sangatlah penting. Silaturahmi adalah
harta yang kasat mata, tapi sangat berharga. Pada tulisanku yang lainnya aku
akan membahas sosok yang sangat baik dalam menjalin dan menjaga tali
silaturahmi, beliau adalah almarhum Kakek Buyutku. Cerita mengenai sosok beliau
yang arif, berkharisma, dan rasa persaudaraan yang tinggi masih melegenda di
keluargaku. Namun yang terpenting saat ini, yang ingin aku tanamkan pada diriku
baik-baik setelah hari ini, bahwa menjalin dan menjaga tali silaturahmi itu
sangat penting dan berharga. :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar